DENTITAS :
Hari/Tanggal : Kamis, 26 Oktober 2023
Mapel : SBK
Kelas : 9C, 9D
Materi : Tehnik Vokal, Penampilan
KD : 3.1 dan 4.1
Teknik Vokal
Warna suara atau timbre dan wilayah nada
mungkin salah satu bekal awal yang kuat bagi seorang penyanyi. Namun sejatinya
menyanyi juga merupakan suatu keterampilan dan membutuhkan teknik yang baik.
Seseorang yang bernyanyi dengan menggunakan teknik vokal yang benar akan
menghasilkan suara yang baik dan layak didengar.
Teknik vokal tidak hanya menyangkut cara
menyanyi saja, namun meliputi sikap yang baik dan pengaturan pernafasan yang
efektif pula. Menurut Tim Kemdikbud (2017, 45-48) berikut adalah beberapa
teknik vokal yang harus diperhatikan ketika bernyanyi.
1. Sikap Bernyanyi
Bernyanyi yang baik harus diawali dengan sikap
bernyanyi yang baik pula, karena sikap berdiri yang baik ini dapat
memaksimalkan tenaga untuk bernyanyi. Berikut ini cara berdiri yang baik pada
saat bernyanyi.
1. Badan tegak dan rileks, kaki dibuka sedikit.
2. Berat badan bertumpu di kedua kaki dengan
seimbang.
3. Dada dibusungkan tapi tetap rileks.
4. Pandangan lurus ke depan.
5. Posisi tangan rileks di samping kiri kanan.
2. Pernapasan Diafragma
Pernapasan yang dianjurkan digunakan pada saat
bernyanyi yaitu pernapasan diafragma. Di dalam diafragma ini, terdapat otot
yang jika terus dilatih dengan olah napas akan menjadi lebih kuat sehingga
dapat memperpanjang durasi keluarnya napas kita pada saat bernyanyi. Otot
diafragma ini juga dapat menjadi sumber tenaga yang besar untuk mencapai nada
tinggi dan menambah tenaga, pada saat bernyanyi.
Jika pada saat bernyanyi olah pernapasan dan
sumber tenaga bermuara di diafragma, maka suara juga akan lebih bulat dan
bening. Selain itu, tenggorokkan kita tidak akan terasa sakit dan mudah lelah.
Berikut ini tahapan berlatih olah pernapasan diafragma.
1. Ambil napas melalui hidung atau mulut,
bayangkan seperti mencium bau parfum dengan lembut, lalu udara langsung masuk
ke ruang diafragma dan seketika otot diafragma akan mendesak ke bagian depan
dan seluruh udara menyebar di diafragma sampai ke samping dan bagian
belakangnya.
2. Tahan napas tersebut kira-kira 5 detik,
rasakan benar otot diafragma makin kencang.
3. Lalu, keluarkan napas tersebut dengan lembut,
mengeluarkan suara desis halus dan rata sambil dihitung berapa detik siswa
dapat menghabiskan napas dengan desis tersebut. Suara desis ini bisa diganti
dengan suara menyerupai lebah misalnya zzzz… atau tiupan ffffff…. yang penting
keluarnya udara rata dan stabil.
4. Ulangi beberapa kali latihan di atas sambil
berupaya agar banyaknya hitungan desis yang dikeluarkan semakin banyak setiap
kali berlatih. Semakin bertambah durasinya, berarti kekuatan otot diafragma
siswa pun bertambah kuat.
Setelah terbiasa melakukan olah pernapasan
seperti di atas, mulailah untuk memproduksi suara pada saat bernyanyi dengan
sumber tenaga dari kekuatan otot diafragma.
3. Resonansi
Dalam bernyanyi, seseorang harus dapat
menggemakan suara dengan cara menempatkan sumber suara agar suara lebih keras
pada saat dikeluarkan dan sampai kepada pendengar. Proses menggemakan suara ini
disebut dengan resonansi.
Terdapat 3 (tiga) jenis resonansi atau tempat
memantulkan sumber bunyi sesuai fungsinya, yaitu:
1. Resonansi Dada,
yang memantulkan sumber bunyi pada bagian dada akan menghasilkan suara rendah.
Jika akan memproduksi suara yang rendah, hendaklah menggunakan resonansi dada
agar nada rendah dapat dicapai dengan tepat dan halus.
2. Resonansi Hidung,
memantulkan sumber bunyi pada bagian wajah seputar hidung yaitu meliputi tulang
rahang mulut sampai ke pipi, akan menghasilkan suara sedang yang tepat dan
halus. Selain itu juga, kerja tenggorokkan tidak terlalu berat dan tidak mudah
lelah. Suara yang dihasilkan pun akan terdengar lebih bening dan bersih.
3. Resonansi Kepala,
Memantulkan sumber bunyi pada bagian kepala akan menghasilkan suara tinggi dan
halus. Untuk dapat menghasilkan nada-nada tinggi yang tepat dan halus,
resonansi kepala ini harus juga disokong dengan kerja otot diafragma yang
maksimal juga. Jangan sekali-kali memaksakan memproduksi suara tinggi di
tenggorokkan, karena sudah pasti nadanya tidak akan sampai dengan tepat, suara
tidak bening dan akan terasa sakit di tenggorokkan, dan jika hal ini sering
dilakukan maka akan merusak kualitas pita suara.
4. Artikulasi dan Gerak Mulut
Bernyanyi yang baik tidak bisa terlepas dari
pengucapan kata-kata yang ada pada lirik lagu dengan jelas. Oleh karena itu,
selalu gunakan artikulasi yang baik dengan cara melakukan gerakan mulut yang
tepat. Setiap lirik harus diucapkan dengan jelas atau justru mungkin dapat
diartikulasikan lebih singkat agar lebih terdengar ringan oleh pendengar.
5. Phrasering/Pengalimatan
Phrasering atau pengalimatan (tidak baku:
pengkalimatan) merupakan teknik vokal yang mengatur tentang pengelompokan
kalimat di mana vokalis dapat mengambil napas pada setiap jeda antarkalimat.
Pengalimatan ini hendaknya dilakukan sebelum memulai bernyanyi, beri tanda pada
jeda antarkalimat sehingga ketika saat kita bernyanyi, kita dapat mengambil
napas yang sesuai dengan makna lagu.
6. Ekspresi (Mimik dan Gestur)
Pada saat bernyanyi, hendaknya siswa
memberikan ekspresi sesuai dengan tema lagu. Dengan begitu, makna lagu akan
lebih mudah diterima oleh pendengar. Ekspresi meliputi mimik wajah dan gestur
atau gerak tubuh.
Penampilan
Coba perhatikan tayangan konser seorang
penyanyi di TV, Youtube atau lebih baik lagi secara langsung di sebuah panggung
yang besar dan observasi/teliti bagaimana penampilan mereka. Dapat dipastikan
seorang penyanyi yang profesional akan mempersiapkan penampilan mereka mulai
dari baju atau kostum yang digunakan, gaya rambut, sepatu, asesoris, dan riasan
wajah yang akan disesuaikan dengan tema acara, tema lagu, dan tempat yang
menjadi tempat tampil untuk bernyanyi. Hal ini dilakukan agar pertunjukkan
menyanyi mereka akan lebih indah dilihat dan meninggalkan kesan yang kuat pada
audiens.




.jpg)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar